PEMBERIAN
EKSTRAK DAUN
JAMBU MONYET (Anacardium occidentale
L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli
JURNAL ILMIAH
Oleh:
HIDAYATULLAH
NIM A1C209021
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
JULI
2013
PEMBERIAN EKSTRAK DAUN JAMBU MONYET (Anacardium occidentale L.) TERHADAP
PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli
Hidayatullah
Universitas Lambung Mangkurat
Banjarmasin
Abstrak: Daun
jambu monyet digunakan sebagai bahan obat tradisional. Daun jambu monyet
diketahui mengandung senyawa flavonoid, tanin, terpenoid, saponin, asam
anakardat dan alkaloid yang berfungsi sebagai antibakteri. Escherichia coli merupakan bakteri yang menyebabkan
penyakit diare. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan bakteri Escherichia coli setelah diberikan ekstrak daun jambu monyet secara
in vitro dan mengetahui konsentrasi hambat minimal ekstrak daun jambu monyet
yang efektif dalam menghambat total pertumbuhan bakteri Escherichia coli secara in vitro.
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah eksperimental secara in vitro.
Konsentrasi ekstrak daun jambu monyet yang digunakan dalam penelitian ini
adalah 0%, 30%, 32,5%, 35%, 37,5%, 40%, 42,5% dan 45%. Konsentrasi dilakukan
sebanyak 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian
ekstrak daun jambu monyet menyebabkan terhambatnya pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan konsentrasi hambat
minimal ekstrak daun jambu monyet yang paling efektif dalam menghambat total
pertumbuhan bakteri Escherichia coli adalah
42,5%.
Kata kunci: Jambu monyet, pertumbuhan, Escherichia coli
Jambu monyet termasuk ke dalam genus Anacardium, anggota dari famili
Anacardiaceae, yang terdiri atas sekitar 60 genus dan 400 spesies pohon dan
perdu yang kulit kayunya bergetah dan tumbuh meluas di daerah tropic. Beberapa
tanaman buah-buahan penting lainnya, seperti mangga (Mangifera Indica L.), pistachionut (Pistacia vera L.) dan berbagai spesies dari Spondias L., seperti S. cythera Sonn. atau S. dulcis Forst, S.mombin L. dan S. purpurea
L., termasuk ke dalam famili ini (Sastrahidayat dan Soemarno, 1990).
Menurut Hanani (1969) salah satu tumbuhan yang dapat dimanfaatkan
sebagai bahan obat tradisional adalah Anacardium occidentale L. yang dikenal dengan nama
daerah jambu mede atau jambu mente. Tanaman jambu monyet dapat dimanfaatkan
mulai dari bijinya atau yang lebih dikenal dengan kacang monyet sebagai
makanan, daun muda sebagai lalapan, kulit batang pohon sebagai obat kumur atau
obat sariawan. Sedangkan buah semu jambu monyet belum dimanfaatkan secara
maksimal hanya sebagai limbah setelah bijinya diambil. Namun, ada sebagian
masyarakat yang memanfaatkan buah semu jambu monyet untuk mengobati radang
tenggorokan. Kulit kayu jambu monyet mengandung tanin
yang cukup banyak, zat samak, asam galat dan ginkol katekin. Daun mengandung
tanin-galat, flavonol, asam anakardiol, asam elagat, senyawa fenol, kardol dan
metil kardol. Buah mengandung protein, lemak, vitamin (A, B dan C), kalsium,
fosfor, besi dan belerang. Biji mengandung 40-50% minyak dan 21% protein
protein. Minyak mengandung asam oleat, asam linoleat dan vitamin E. Getah
mengandung furtural (Dalimartha, 2000).
Menurut Jawetz
dkk., (1995) dalam Kusuma (2010) Escherichia coli
adalah anggota flora normal usus. Escherichia
coli berperan penting dalam sintesis vitamin K, konversi pigmen-pigmen
empedu, asam-asam empedu dan penyerapan zat-zat makanan. Escherichia coli
menjadi patogen jika jumlah bakteri ini dalam saluran pencernaan meningkat atau berada di luar usus. Escherichia coli menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan beberapa kasus diare.
Menurut Menkes (2011) konsentrasi hambat minimal adalah
kadar konsentrasi terendah antimikroba yang mampu menghambat tumbuh dan
berkembangnya bakteri atau tidak menunjukkan adanya pertumbuhan koloni bakteri
pada medianya. Dalam mikrobiologi konsentrasi hambat minimal adalah konsentrasi
terendah dari antimikroba yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan
mikroorganisme terlihat setelah diinkubasi (Andrews, 2001).
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan
masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana pertumbuhan bakteri Escherichia coli setelah diberikan ekstrak daun jambu
monyet secara in vitro?
2. Berapa konsentrasi hambat minimal
ekstrak daun jambu monyet yang efektif dalam menghambat total pertumbuhan
bakteri Escherichia coli secara in
vitro?
Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini
adalah :
1. Menambah informasi untuk mata kuliah
Mikrobiologi,
Anatomi Tumbuhan, Etnobotani, Fisiologi Tumbuhan, Botani Tumbuhan Tinggi dan Biokimia
pada program studi pendidikan biologi.
2. Sebagai bahan penunjang pengembangan
materi pembelajaran biologi
tentang Monera di Sekolah Menengah Pertama kelas VII dan Sekolah Menengah Atas kelas X semester I.
3. Sebagai informasi kepada masyarakat
tentang manfaat daun jambu monyet sebagai bahan alami
untuk mengobati penyakit diare.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental secara in
vitro dengan teknik pengamatan langsung terhadap jumlah koloni bakteri Escherichia coli. Hasil uji pendahuluan
yang telah dilakukan dengan konsentrasi ekstrak daun jambu monyet yaitu 0%, 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%. Pada
konsentrasi 40% pertumbuhan koloni bakteri Escherichia
coli tidak terlihat lagi. Konsentrasi ekstrak daun jambu
monyet untuk uji bakteri sesungguhnya dalam menghambat pertumbuhan koloni
bakteri Escherichia coli yaitu 0%, 30%, 32,5%, 35%, 37,5%, 40%, 42,5% dan 45% dengan 3
kali pengulangan.
Polulasi penelitian ini adalah semua daun jambu monyet.
Sampel penelitian ini adalah daun jambu monyet ke 4 dan ke 5 yang diambil sebanyak 1,5 Kg. Pengambilan daun jambu monyet pada
penelitian ini adalah dengan teknik purposive (teknik penentuan sampel
untuk tujuan tertentu). Daun jambu monyet yang digunakan adalah daun jambu monyet yang masih segar,
diambil dari pohon yang telah berbuah. Sebagai objek penelitian digunakan bakteri Escherichia coli.
Alat yang digunakan sebagai berikut: pisau, blender,
oven, seperangkat alat soxhlet, naraca analitik, rotary evapolator, batang
pengaduk, thermolyn, Colony counter, incubator, tabung reaksi, pipet volumetrik
dan cawan petri steril. Bahan yang digunakan sebagai berikut: Daun jambu monyet, ethanol
96%, kertas saring, tali, Muller Hilton
Agar (MHA), biakan murni Escherichia coli,
ekstrak daun jambu monyet dan aquadest.
Data yang dipakai untuk mengetahui ada tidaknya pertumbuhan
bakteri Escherichia coli setelah
diberi ekstrak daun jambu monyet adalah data kuantitatif yang diperoleh melalui hasil
pengamatan jumlah koloni bakteri setiap perlakuan. Selanjutnya data dianalisis
berdasarkan kajian pustaka Pelczar dan Chan (1988), Brooks dkk.,(2007), Pratiwi
(2008) dan sumber internet
yang relevan.
Hasil Penelitian dan
Pembahasan
Berdasarkan hasil uji penelitian maka didapatkan data
jumlah rata-rata koloni bakteri Escherichia
coli yang tumbuh pada setiap konsentrasi larutan uji seperti yang terdapat
pada grafik di bawah ini.
Dari konsentrasi 0% koloni bakteri Escherichia coli sangat terlihat di permukaan medium. Pada
konsentrasi lebih tinggi koloni bakteri berkurang dari konsentrasi sebelumnya.
Hal ini menunjukkan penurunan jumlah koloni bakteri Escherichia coli. Semakin tinggi ekstrak yang diberikan, maka
semakin sedikit jumlah koloni bakteri Escherichia
coli yang tumbuh seperti pada grafik diatas.
Adanya penurunan jumlah koloni bakteri Escherichia coli dari konsentrasi 0%
sampai konsentrasi 45% diduga karena bakteri Escherichia coli sudah mulai terganggu hidupnya akibat pemberian
ekstrak daun jambu monyet. Bakteri Escherichia
coli diduga mengalami stress akibat perubahan lingkungan yang merugikan
bagi kehidupan bakteri (Annisa, 2012).
Perubahan yang terjadi akibat ekstrak daun jambu monyet
yang diberikan ke dalam media mengandung zat antibakteri. Ketika lingkungan
bakteri berubah atau tidak menguntungkan untuk bertahan hidup maka bakteri akan
terhambat pertumbuhannya bahkan selanjutnya akan mati, sedangkan yang mampu
bertahan dari lingkungan yang tidak menguntungkan akan melanjutkan siklus
hidupnya.
Menurut Brooks dkk., (2007) bakteri dapat menggunakan
flagel untuk bergerak di atas permukaan dan memulai kolonisasi. Beberapa
bakteri dapat menggunakan pili untuk menarik diri bersama-sama menbentuk
koloni. Kolonisasi adalah langkah awal pembentukan biofilm. Biofilm adalah
kumpulan bakteri interaktif yang melekat satu sama lain dan dibungkus dalam
matriks eksopolisakarida. Bakteri dalam eksopolisakarida dapat dilindungi dari
mekanisme antimikroba. Beberapa bakteri
dalam biofilm memperlihatkan resistansi yang nyata terhadap antimikroba berbeda
dengan strain bakteri yang sama, yang tumbuh dan hidup bebas dalam bahan
medium.
Hasil pengamatan terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli menunjukkan adanya
penurunan jumlah koloni bakteri Escherichia
coli setelah diberi perlakuan yang berbeda-beda. Konsentrasi 42,5%
merupakan penghambat total terhadap pertumbuhan
bakteri Escherichia coli.
Menurut Jawetz dkk., (2001) dalam Ajizah (2007) pertumbuhan
bakteri yang terhambat atau kematian bakteri akibat suatu zat antibakteri dapat
disebabkan oleh penghambatan terhadap sintesis dinding sel, penghambatan
terhadap fungsi membran sel, penghambatan terhadap sintesis protein atau
penghambatan terhadap sintesis asam nukleat. Menurut Dalimartha (2000) pada
daun jambu monyet mengandung tanin-galat, flavonol, asam anakardiol, asam
elagat, senyawa fenol, kardol dan metal kardol.
Tanin mempunyai sifat sebagai pengelat berefek
spasmolitik, yang menciutkan atau mengkerutkan usus sehingga gerak peristaltik
usus berkurang. Akan tetapi, efek spasmolitik ini juga mungkin dapat
mengkerutkan dinding sel atau membran sel sehingga mengganggu permeabilitas sel
itu sendiri. Akibat terganggunya permeabilitas, sel tidak dapat melakukan
aktivitas hidup sehingga pertumbuhannya terhambat atau bahkan mati (Ajizah,
2004).
Masduki (1996) menyatakan bahwa tanin juga mempunyai
daya antibakteri dengan cara mempresipitasi, karena diduga tanin mempunyai efek
yang sama dengan senyawa fenolik. Efek antibakteri tanin antara lain melalui:
reaksi dengan membran sel, inaktivasi enzim, dan destruksi atau inaktivasi
fungsi materi genetik.
Zat antibakteri pada daun jambu monyet selain tanin adalah
flavonoid. Kandungan
flavonoid yang merupakan senyawa fenol (Harborne, 1987)
dan senyawa fenol dapat
bersifat koagulator protein menurut Dwidjoseputro
(2005). Protein yang menggumpal tidak dapat
berfungsi lagi, sehingga akan mengganggu pembentukan dinding sel bakteri
(Ajizah dkk., 2007). Zat antibakteri yang lain adalah alkaloid.
Alkaloid dapat mengganggu terbentuknya jembatan seberang silang komponen
penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding sel tidak
terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel tersebut (Robinson, 1995).
Menurut penelitian Mulyati & Dewi (2000) pengaruh
senyawa-senyawa kimia, terutama senyawa fenol yang terdapat dalam daun jambu
monyet adalah dengan cara mendenaturasi ikatan protein pada membran sel,
sehingga membran sel menjadi lisis dan kemungkinan fenol dapat menembus kedalam
inti sel. Dengan masuknya fenol ke dalam inti sel dapat menyebabkan
mikroorganisme tidak berkembang.
Pratiwi (2008) menyatakan bahwa dinding sel bakteri gram
negatif tidak memiliki peptidoglikan seperti yang terdapat pada dinding sel
bakteri gram positif. Dinding sel bakteri gram negatif terdiri dari
pseudopeptidoglikan (peptidoglikan semu) yaitu substansi serupa peptidolikan
yang mengandung N-acetytalosaminuronic acid, metanokondroitin, protein atau
glikoptotein. Komposisi dinding sel ini menyebabkan tidak peka terhadap
antibiotik seperti penisilin. Mekanisme kerjanya adalah dengan mencegah ikatan
silang peptidoglikan pada tahap akhir sintesis dinding sel, yaitu dengan cara
menghambat protein pengikat. Protein ini merupakan enzim dalam membran plasma
sel bakteri yang secara normal terlibat dalam penambahan asam amino yang
berikatan silang dengan peptidoglikan dinding sel bakteri dan mengeblok
aktivitas enzim transpeptidase yang membungkus ikatan silang polimer-polimer
gula panjang yang membentuk dinding sel bakteri menjadi rapuh dan mudah lisis.
Zat antibakteri pada daun jambu monyet mampu merusak
membran plasma sel bakteri. Hal ini didukung oleh Pelczar dan Chan (1998) yang
menyatakan bahwa membran plasma bersifat semipermiabel dan mengendalikan
transpor berbagai metabolit ke dalam dan ke luar sel. Adanya gangguan atau kerusakan
struktur pada membran plasma dapat menghambat atau merusak kemampuan membran plasma
sebagai penghalang.
Zat kimia (antibakteri) juga mampu menghambat sintesis
protein. Mekanisme penghambatan sintesis protein pada bakteri adalah dengan berikatan
pada subunit 30S ribosom bakteri (beberapa terikat juga pada subunit 50S
ribosom) dan menghambat translokasi peptidil-tRNA dari situs A ke situs P dan
menyebabkan kesalahan pembacaan mRNA dan mengakibatkan bakteri tidak mampu
menyintesis protein untuk pertumbuhannya (Pratiwi, 2008).
Ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi penghambatan
mikroorganisme. Salah satu faktor tersebut adalah konsentrasi zat antimikroba.
Menurut Ajizah (2004) kemampuan suatu bahan antimikroba dalam meniadakan
kemampuan hidup mikroorganisme tergantung pada konsentrasi bahan antimikroba
itu. Hal ini sesuai dengan hasil yang diperolah pada penelitian yang telah
dilakukan. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka pertumbuahan bakteri semakin
sedikit.
Konsentrasi hambat minimal adalah konsentrasi minimal
dari suatu zat yang akan menghambat pertumbuhan suatu mikroorganisme (Metaliri,
2007). Menkes (2011) menyatakan bahwa konsentrasi hambat minimal adalah kadar konsentrasi
terendah antimikroba yang mampu menghambat tumbuh dan berkembangnya bakteri
atau tidak menunjukkan adanya pertumbuhan koloni bakteri pada medianya. Pada
konsentrasi ekstrak 42,5% tidak tampak adanya pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Hal ini menunjukkan
bahwa konsentrasi hambat minimal efektif ekstrak daun jambu monyet yang dapat
menghambat total pertumbuhan bakteri Escherichia
coli adalah 42,5%. Adanya penghambat total terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli menunjukkan bahwa
ekstrak daun jambu monyet mengandung bahan antibakteri.
Menurut Dalimartha (2000) pada daun
jambu monyet mengandung tanin-galat, flavonol, asam anakardiol, asam elagat,
senyawa fenol, kardol dan metal kardol. Menurut Pratiwi (2008) pertumbuhan
bakteri yang terhambat atau mengalami kematian bakteri akibat suatu zat
antibakteri dapat menyebabkan penghambatan terhadap sintesis dinding sel,
merusak membran sel, menghambat sintesis protein dan menghambat sintesis asam
nukleat.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang
pemberian ekstrak daun jambu monyet terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dapat disimpulkan pemberian ekstrak daun jambu monyet
menyebabkan terhambatnya pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan konsentrasi hambat minimal ekstrak daun jambu
monyet yang paling efektif dalam menghambat total pertumbuhan bakteri Escherichia coli adalah 42,5%.
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai khasiat
daun jambu monyet terhadap bakteri patogen lainnya. Sebaiknya juga perlu
dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan daun jambu monyet yang
muda, sehingga dapat diketahui daun mana yang lebih efektif dalam menghambat
pertumbuhan bakteri Escherichia coli.
DAFTAR PUSTAKA
Ajizah, Aulia. 2004. Sensitivitas Salmonella typhimurium terhadap
Ekstrak Daun Psidium guajava L. Laporan Penelitian. Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Lambung
Mangkurat, Banjarmasin.
Ajizah, A., Thihana & Mirhanuddin.
2007. Potensi Ekstrak Kayu Ulin (Eusideroxylon
zwageri) dalam Menghambat Pertumbuhan
Bakteri Staphylococcus aureus secara In Vitro. Laporan Penelitian. Program Studi
Pendidikan Biologi FKIP Universitas Lambung Mangkurat,
Banjarmasin.
Andrews, J. M. 2001. Determination of Minimum Inhibitory Concentrations. Journal of
Antimicrobial Chemotherapy 48 (Suppl. 1) : 5-16. PMID 11420333. (Online). Tersedia : http://iac.oxfordjournals.org/content/48/suppl1/5.abstract.
Diakses tanggal 12 Juni 2013.
Annisa, A. Rizki. 2012. Pengaruh Ekstrak Buah Sawo (Acharas zapota
L.) terhadap
Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli secara In Vitro. Skripsi S1. Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendididkan Universitas Lambung Mangkurat,
Banjarmasin.
Brooks, Geo F., Janet S. Butel & Stephen A. Morse.
2005. Mikrobiologi Kedokteran (Medical
Microbiologi. Salemba Medika, Jakarta.

Dalimartha,
Setiawan. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2.Trubus Agriwidia, Jakarta.
Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar
Mikrobiologi. Djambatan, Jakarta.
Hanani, E. 1996. Uji Efek Antiinflamasi Fraksi
Kloroform Daun Jambu Mede (Anacardium occidentale L.). Skripsi. Jakarta: Lembaga Penelitian Universitas
Indonesia.http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=76591&lokasi=lokal.
Diakses tanggal 10 Mei 2013.
Harborne, J. B. 1987. Metode Fitokimia Penuntun cara
Modern Menganalisis Tumbuhan, Terbitan Kedua. ITB, Bandung.
Kusuma,
Sri A. F. 2010. Makalah Escherichia coli. Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran,
Jatinangor.
Masduki, I. 1996. “Efek Antibakteri Ekstrak Biji Pinang (Areca catechu) terhadap
S.
aureusdan E. coli”. Cermin Dunia Kedokteran 109
: 21-24. http://www.scribd.com/doc/20936368/Cdk-109-Diare-Dan-Lingkungan. Diakses tanggal 10
Mei 2013.
Menkes. 2011. Pedoman Umum
Penggunaan Antibiotik. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
2406/MENKES/PER/XII/2011, Jakarta.
Metaliri, M. 2007.
Efek Antibakteri Infusum Anggur
(Vitis vinifera) Varietas Probolinggo Biru terhadap Streptococcus mutans Asal
Saliva In Vitro. Skripsi. Fakultas kedokteran gigi universitas Indonesia,
Jakarta.
Mulyati, Sri & Dewi S. 2000. Uji
Aktivitas Antijamur Infusa Daun Jambu Mete (Anacardium occidentale L) terhadap Candida albicans. Laporan Penelitian. Fakultas Biologi Universitas Setia
Budi.
Pelczar, M. J. & Chan, E. C. S. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi 2. UI Press, Jakarta.
Robinson, Rrevor. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. ITB, Bandung.
Sastrahidayat, Ika R. & Soemarno. 1990. Jambu Mete (Anacardium occidentale) dan
Masalahnya. Kalam Mulia, Jakarta.
Sujudi.
1993. Mikrobiologi Kedokteran Edisi
Revisi. Binarupa Aksara, Jakarta.
Pratiwi, Sylvia T. 2008. Mikrobiologi
Farmasi. Erlangga, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar